Tips dan Trik: VirtualBox Shared Folders

Saat menggunakan VirtualBox, ada kalanya kita ingin mengakses file di host machine dari guest machine. Ada beberapa cara untuk melakukan ini, 1) NFS, 2) Samba, 3) FTP, 4) SSHFS. Semua cara tersebut membutuhkan instalasi server tambahan yang cukup ribet dan mungkin akan membuat bulu kuduk berdiri. Untungnya VirtualBox sudah menyediakan satu cara yang sederhana, sebuah fitur bernama Shared Folders. Dengan bantuan VirtualBox Shared Folders, berbagi file antara host dan guest machine menjadi sangat mudah.
Cara menggunakan shared folders di VirtualBox sangat gampang, dari jendela utama VirtualBox pilih virtual machine yang akan mengakses file di host machine. Klik tombol Settings begambar gigi roda di deretan toolbar. Seperti tampak di gambar berikut.
Di jendela Settings pilih 'Shared Folders' pada panel sebelah kiri paling bawah. Untuk menambahkan folder baru dari yang akan dibagikan ke guest machine, klik tombol dengan ikon folder dan tanda tambah di pojok sebelah kanan jendela pengaturan Shared Folders.
Tentukan folder yang akan diakses dari virtual machine. Atur juga apakah folder ini dapat ditulisi atau tidak, otomatis dikaitkan saat sistem operasi dihidupkan atau harus dikaitkan secara manual. Klik OK jika sudah selesai.
Hidupkan virtual machine atau reboot jika sebelumnya sudah hidup. Folder tadi kini sudah dapat diakses dari virtual machine menggunakan Nautilus layaknya file di harddisk lokal. Lokasinya ada di bawah direktori /media.
Sayangnya folder-folder ini selalu read only walaupun di pengaturan Shared Folders sudah diberikan akses penuh baik baca maupun tulis. Trik untuk mengatasi masalah ini dengan menjalankan Nautilus sebagai root.
 
Bagaimana, tips dan triknya gampang kan?

Remmina Remote Desktop Client Untuk Linux

Kebanyakan pengguna Linux bekerja sebagai syadmin. Alasannya sederhana, Linux banyak digunakan di server-server perusahaan besar maupun kecil. Salah satu pekerjaan utama sysadmin melakukan perawatan pada server-server yang ia kelola, kebanyakan dilakukan secara remote. Di Linux terdapat banyak pilihan aplikasi untuk perkerjaan remote, salah satunya Remmina Desktop Client. Remmina dikembangkan menggunakan framework GTK+ dan dirilis dengan lisensi GNU General Public License (GPL). Kemampuan Remmina masih dapat ditambahkan dengan plug in yang dirilis terpisah dari program utama.
Fitur
Remmina mendukung cukup banyak protokol untuk urusan remote-meremote. Protokol utama yang sudah didukung hingga saat ini adalah RDP, SSH, VNC, XDMCP, dan SFTP. Tiap koneksi ke satu server dapat disimpan dan akan ditampilkan lengkap dengan logo yang mewakili protokol bersangkutan.
Fitur lain yang mungkin akan disukai banyak Linuxer di aplikasi ini tentu saja kemampuannya untuk menampilkan server-server yang sedang di-remote dalam saju jendela tab, mirip seperti Firefox. Fitur ini akan mengurangi banyaknya jendela yang terbuka ketika me-remote lebih dari satu server.
Khusus untuk protokol RDP, Remmina menyediakan fitur untuk remember password, pengaturan resolusi, kedalaman warna, dll. Pengaturan ini dapat dibuat dan disimpan ketika mendefinisikan server baru, atau diubah sewaktu-waktu.
Di protokol SSH, Remmina mendukung autentikasi menggunakan password dan public key secara otomatis atau ditentukan sendiri. Pengguna juga dapat menentukan program yang akan otomatis dijalankan ketika login ke server.
Instalasi 
Distribusi Debian sudah memasukkan Remmina di repositori, sehingga instalasi dapat dilakukan dengan satu perintah dari terminal.
aptitude install remmina
Instalasi juga dapat dilakukan dengan kompilasi kode sumber. Hingga saat ini rilis terbaru Remmina sudah mencapai versi 0.9.2. Sayangnya kalau diperhatikan di situsnya, update terakhir tahun 2010. Semoga saja aplikasi ini tetap dikembangkan oleh developernya.

Install Cinnamon Desktop di Linux Debian

Gnome 3 tidak pernah mendapatkan tempat di desktop para pengguna Linux. Itu bahkan sudah terjadi sejak kali pertama desktop environment dengan antarmuka yang disebut Gnome Shell ini dirilis. Karena hal ini beberapa desktop environment alternatif bermunculan. BlankOn mengembangkan BlankOn Panel, Ubuntu dengan Unity, Linux Mint memulai proyek bernama Cinnamon, dan sebuah fork atas Gnome 2 bernama MATE. Cinnamon yang dirilis bersamaan dengan Linux Mint 12 cukup berhasil menarik perhatian para Linuxer. Cinnamon sendiri sebenarnya bukanlah desktop environment baru, ia dikembangkan di atas Gnome 3 dengan rasa Gnome 2 a la Linux Mint.
Installer Cinnamon sudah tersedia untuk beberapa distro dan dapat diunduh dari situs resminya. Sayangnya tidak ada nama Debian di sana, walaupun kita bisa saja mencoba peruntungan menggunakan paket deb untuk Ubuntu. Cara lain yang lebih beresiko adalalah melakukan instalasi dari kode sumber (compile from source code). Cara ini yang akan kita coba.Sudah siap? Mari kita mulai.
Karena kita akan melakukan instalasi dari kode sumber , silakan unduh dahulu source code Cinnamon 1.2 dari github.
cd Downloads
wget https://github.com/linuxmint/Cinnamon/zipball/1.2
Boleh percaya, boleh tidak tapi Cinnamon ini membutuhkan banyak sekali dependency. Berikut paket-paket yang harus dipasang sebelum melakukan kompilasi.
libglib2.0-dev libdbus-glib-1-dev libxml2-dev libgtk-3-dev libfolks-dev libmutter-dev libgjs-dev libgnome-menu-3-dev libgconf2-dev libgdk-pixbuf2.0-dev libsoup2.4-dev libclutter-1.0-dev libstartup-notification0-dev gobject-introspection libcanberra-gtk3-dev libtelepathy-glib-dev libtelepathy-logger-dev libpolkit-agent-1-dev libxfixes-dev libnm-glib-dev libnm-util-dev libgnome-keyring-dev
aptitude install libgnome-desktop-3-dev libcroco3-dev libpulse-dev libecal1.2-dev libedataserver1.2-dev gir1.2-accountsservice-1.0 gir1.2-caribou-1.0 gnome-common libedataserverui-3.0-dev
Mari kita lanjut dengan mengekstrak dan melakukan kompilasi kode sumber Cinnamon. Jalankan semua perintah berikut sebagai root.
unzip linuxmint-Cinnamon-1.1.3-0-g7717051.zip
cd linuxmint-Cinnamon-dae5da1
./autogen.sh
make
make install
Jika tidak ada error selama proses-proses di atas, artinya instalasi Cinnamon berhasil. Sekarang waktunya menjalankan Cinnamon untuk menggantikan desktop kita.
cinnamon --replace --sm-disable
Cinnamon berjalan dengan sukses. Berikut tangkapan layarnya.
Sebagai catatan tambahan, Cinnamon tidak pernah berhasil dijalankan dari Gnome 3. Sepertinya ia lebih menyukai LXDE. Sebagai bonus, di bawah ini adalah tangkapan layar Cinnamon di Debian GNU/Linux.

Install PHPVirtualBox di Linux Debian Wheezy

Sebenarnya VirtualBox sudah menyediakan antarmuka berbasis GUI yang sangat baik untuk pengaturan virtual machine. Namun kita pasti akan kerepotan kalau menginstall VirtualBox di server yang harus di-remote dan tanpa lingkungan desktop (kebanyakan server seperti itu). Mengapa? Karena GUI console VirtualBox belum punya fitur remote access. Salah satu solusinya kita dapat menginstall PHPVirtualBox di server yang menjalankan VirtualBox. PHPVirtualBox sesuai namanya dibangun menggunakan bahasa PHP dan Ajax. Ia merupakan antarmuka berbasis web yang memanfaatkan API vboxweb-service milik VirtualBox, sehingga dapat diakses dari mana saja. Instalasi PHPVirtualBox sama seperti aplikasi berbasis web lainnya yang dibangun di atas bahasa PHP. Aplikasi ini membutuhkan server web Apache dan PHP, jadi pastikan dulu keduanya sudah terpasang di server yang akan dipasangi PHPVirtualBox. Versi terbaru PHPVirtualBox pada saat tulisan ini dibuat adalah 4.1.7 yang cocok dengan VirtualBox versi 4.1.x. Kode sumbernya dapat diunduh dari code.google.com. Letakkan kode sumber ini di direktori root web server, di Debian atau Ubuntu biasanya adalah /var/www.
su
cd /var/www
wget https://phpvirtualbox.googlecode.com/files/phpvirtualbox-4.1-7.zip
Ekstrak berkas hasil unduh di /var/www dan rename menjadi phpvirtualbox supaya alamat URL nantinya lebih mudah dituliskan di browser.
unzip phpvirtualbox-4.1-7.zip
mv phpvirtualbox-4.1-7 phpvirtualbox
Sekarang rename juga config.php-example menjadi config.php
cd phpvirtualbox
mv config.php-example config.php
Kita perlu menyesuaikan sedikit konfigurasi di berkas config.php. Buka berkas ini menggunakan editor teks, lalu ubah nilai dari dua parameter berikut.
var $username = 'vbox';
var $password = 'pass';
Ganti vbox dengan nama user yang nantinya akan dimasukkan di berkas /etc/default/virtualbox, dan pass dengan password dari user tersebut.
Selanjutnya, buat berkas  /etc/default/virtualbox dengan isi (ganti vbox dengan nama user yang ada di sistem, bisa juga dengan membuat user khusus dengan username vbox):
VBOXWEB_USER=vbox
Akses PHPVirtualBox menggunakan browser dengan memasukkan alamat http://localhost/phpvirtualbox, seharusnya kita akan dihadapkan dialog login:
Ketikkan admin di masukan username dan admin di masukan password, lalu klik Log in. Tampilan PHPVirtualBox yang sangat mirip dengan VirtualBox GUI.
Dari jendela di atas, kita dapat melihat status dari server dengan cara mengklik ikon VirtualBox di panel sebelah kiri.
Kita juga dapat membuat virtual machine baru, menghidupkan virtual machine, mengubah konfigurasi virtual machine, melihat status virtual machine, dll.
Bagaimana PHPVirtualBox ini?

Mencoba Gnome 3, MGSE, dan MATE di Linux Mint 12

Sebenarnya Linux Mint 12 dengan nama kode Lisa sudah dirilis sejak November tahun lalu tapi tak ada salahnya juga kalau baru mencobanya sekarang. Apalagi di tengah menurunnya popularitas Ubuntu, Linux Mint sepertinya tampil menjadi idola baru para pengguna Linux. Salah satu alasan semakin populernya Linux Mint tidak lepas dari keputusan pengembangnya untuk mempertahankan antarmuka Gnome 2.x yang dianggap klasik dengan tetap mengadopsi Gnome 3 dengan antarmuka shell. Di rilis ke-12, Linux Mint menyertakan beberapa fitur unggulan untuk mengakomodasi kebutuhan user yang kelihatannya kurang cocok dengan Gnome Shell.
Fitur-fitur baru yang disertakan di Linux Mint 12 di antaranya:
Proses instalasi kelihatannya juga mendapatkan polesan yang cukup baik. Dengan memilih opsi partisi harddisk secara otomatis, total langkah instalasi hanya tujuh tahap. Dan sebelum mencoba Gnome 3, MGSE, dan MATE, proses instalasi inilah point pertama review di artikel ini.
  1. Klik ikon Install Linux Mint di desktop untuk memulai instalasi. Tahap pertama pilih bahasa yang akan digunakan, klik Continue untuk melanjutkan.
  2. Kebutuhan minimum ruang kosong untuk instalasi Linux Mint sebesar 6 GB. Jaringan sengaja diputuskan supaya tidak memperlambat instalasi.Klik Continue untuk melanjutkan.
  3. Untuk alasan kecepatan, partisi akan dilakukan otomatis. Pilihan yang digunakan 'Erase disk and install Linux Mint'. Jika sudah ada data dan sistem operasi lain di harddisk, jangan menggunakan pilihan ini. Lanjut dengan klik Continue.
  4. Jika harddisk di PC/laptop hanya ada satu, langsung saja lanjut dari sini. Sebaliknya, pilih salah satu harddisk yang akan digunakan. Lalu klik Continue.
  5. Bagian ini cukup menarik, ketika proses salin dari DVD/CD ke harddisk sedang berlangsung, user tetap bisa melakukan konfigurasi. Salah satunya konfigurasi zona waktu. Sayangnya hanya berhenti sampai di sini, akan lebih menarik kalau konfigurasi lain bisa dilakukan selama user menunggu proses salin.
  6. Pilih keyboard layout. Klik Continue untuk melanjutkan.
  7. Konfigurasi terakhir sebelum proses instalasi dimulai, tentukan hostname, username dan password untuk sistem baru ini. Klik Continue untuk melanjutkan instalasi.
  8. Proses instalasi akan memakan waktu hingga setengah jam.
  9. Klik Restart Now untuk menyelesaikan instalasi dan me-restart komputer ke Linux Mint 12.
Saat pengguna log in untuk kali pertama, Linux Mint 12 akan menampilkan 'Welcome Screen' berisi dokumentasi, panduan pengguna, tutorial, tautan ke catatan rilis, forum, dll.
Pilihan desktop environment yand disediakan di versi DVD cukup beragam, mulai dari Gnome 3, Gnome Classic, hingga MATE yang masih berstatus eksperimen.
MATE adalah Gnome 2 yang di-fork dengan kompatibilitas dengan Gnome 3. Antarmuka yang ditawarkan persis seperti Linux Mint versi sebelumnya.
Tampilan Gnome 3 dan Gnome Classic di Linux Mint 12 kelihatannya sangat persis. Gnome 3 yang dipakai Linux Mint memang berbeda dengan Gnome 3 di distro Linux lainnya. Alih-alih menggunakan Gnome Shell, developer Linux Mint menyediakan Mint Gnome Shell Extension (MGSE) untuk mempermak tampilan Gnome 3 menjadi mirip Gnome 2.
Melihat penampilah Linux Mint yang semakin ciamik tidak salah kalau popularitas Ubuntu, setidaknya di DistroWatch, sudah tertinggal.

Error PHP Ketika Dijalankan Dengan Module moduserdir

Ada yang aneh ketika saya mencoba menjalankan script PHP di direktori ~/public_html, browser selalu berusaha untuk mengunduh script yang sedang dipanggil alih-alih menampilkannya di browser. Padahal ketika script yang sama diletakkan di /var/www tidak ada masalah. Seharusnya ini artinya dukungan PHP untuk web server Apache belum dipasang, namun karena script PHP sudah terbukti berjalan berarti ada sesuatu yang salah dengan moduserdir. Sebagi informasi, moduserdir adalah modul apache yang memungkinkan user di sistem dapat memiliki berkas-berkas html/php sendiri yang diletakkan di public_html di direktori home masing-masing.
Setelah mentok mencari-cari konfigurasi yang berkaitan dengan hal ini di /etc/apache2, saya menyerah dan memutuskan untuk Googling saja. Dan tak butuh waktu lama, ketemu juga jawabannya di Forum Ubuntu. Ternyata di Debian dan Ubuntu, PHP memang tidak diperbolehkan untuk berjalan dengan moduserdir. Jika memang membutuhkannya maka kita harus mengubah konfigurasinya yang tedapat di /etc/apache2/mods-available/php5.conf. Pastikan untuk memagari baris berikut:

<IfModule mod_userdir.c>
    <Directory /home/*/public_html>
        php_admin_value engine Off
    </Directory>
</IfModule>
Sehingga isi dari /etc/apache2/mods-available/php5.conf menjadi seperti ini:

<IfModule mod_php5.c>
    <FilesMatch "\.ph(p3?|tml)$">
        SetHandler application/x-httpd-php
    </FilesMatch>
    <FilesMatch "\.phps$">
        SetHandler application/x-httpd-php-source
    </FilesMatch>
    # To re-enable php in user directories comment the following lines
    # (from <IfModule ...> to </IfModule>.) Do NOT set it to On as it
    # prevents .htaccess files from disabling it.
    #<IfModule mod_userdir.c>
    #    <Directory /home/*/public_html>
    #        php_admin_value engine Off
    #    </Directory>
    #</IfModule>
</IfModule>
Jangan lupa untuk merestart Apache untuk mengaktifkan konfigurasi baru ini.
service apache2 force-reload
 Problem solved!

Setting VirtualBox: No Host-only Network Adapter Selected

Host-only networking merupakan mode jaringan yang ditambahkan ke Virtualbox mulai dari versi 2.2. Host-only networking bisa dikatakan gabungan dari mode bridged networking dan internal networking. Sama seperti mode bridged networking, semua virtual machine yang terhubung ke host-only networking dapat berkomunikasi satu dengan lainnya. Mesin-mesin virtual pada mode host-only networking juga dapat berkomunikasi dengan mesin host seolah-olah saling terhubung pada satu switch. Host-only networking sama seperti internal networking tidak membutuhkan adapter ethernet fisik. Segabai gantinya Virtualbox akan membuat ethernet adapter secara virtual. Virtual adapter ini nantinya akan digunakan untuk menghubungkan mesin host yang menjalankan Virtualbox dan semua virtual machine yang menggunakan jaringan mode host-only networking.
Di Virtualbox versi 4.1.8 konfigurasi jaringan mode host-only networking tidak dapat langsung digunakan. Sepertinya Oracle melakukan sedikit perubahan sehingga ketika pengguna memilih host-only networking di menu Settings bagian Networking tampil pesan error, On the Network: Adapter 1 page, no host-only network adapter is selected.
Ternyata sebelum dapat menggunakan mode host-only networking, virtual adapter yang nantinya digunakan untuk menghubungkan host dengan guest harus dibuat secara manual. Caranya, klik menu File->Preferences di jendela utama Virtualbox atau tekan kombinasi Ctrl+G di kibor.
Di jendela Virtualbox-Settings masuk ke bagian Network, lalu klik ikon bergambar ethernet card dengan tanda tambah berwarna hijau untuk menambahkan virtual ethernet baru. Sekarang sebuah virtual ethernet baru dengan nama vboxnet0 sudah ditambahkan.
Pengaturan virtual ethernet vboxnet0 yang baru saja ditambahkan juga dapat dilakukan dari jendela ini. Cukup pilih vboxnet0 lalu klik tombol dengan ikon obeng berwarna kuning.
Ada dua konfigurasi yang dapat diatur untuk vboxnet0, yang pertama alamat IP seperti terlihat pada gambar di atas. Nantinya IP yang diberikan ke virtual machine juga harus dalam satu subnet yang sama dengan pengaturan di sini.
Di konfigurasi kedua ada opsi untuk mengaktifkan DHCP Server. Jika opsi ini diaktifkan maka nantinya di guest virtual machine yang terinstal di Virtualbox tidak harus diberikan alamat IP secara manual.
Setelah semua pengaturan di atas selesai barulah mode jaringan host-only networking dapat diterapkan pada guest virtual machine tanpa error.
Seperti tampak pada gambar di atas, vboxnet0 akan terhubung ke virtual machine pada mode host-only network.

Tutorial Hacking: Privilege Escalation Menggunakan Exploit Lokal Mempodipper di Linux 2.6.39

Menurut Wikipedia: Exploit adalah sebuah kode yang menyerang keamanan komputer secara spesifik. Exploit banyak digunakan untuk penentrasi baik secara legal ataupun ilegal untuk mencari kelemahan (Vulnerability) pada komputer tujuan. Exploit biasanya terkait dengan bug (kesalahan pemrograman) yang  terdapat di kode penyusun sebuah perangkat lunak.
Exploit terkadang bisa dijalankan secara remote tanpa harus mengakses terlebih dulu ke mesin target. Namun ada juga exploit yang hanya dapat digunakan setelah pelaku log in ke mesin target. Exploit jenis kedua banyak dimanfaatkan untuk melakukan privilige escalation di sistem yang telah dilumpuhkan. Gunanya tentu saja mendapatkan akses lebih tinggi, misalnya root. Baru-baru ini ada satu bug yang ditemukan di kernel Linux >= 2.6.39 yang memungkinkan seorang peretas mendapatkan akses root setelah mendapatkan akses user biasa ke sistem. Informasi detail mengenai bug ini didokumentasikan di CVE-2012-0056. Linus sendiri telah mengeluarkan patch untuk bug ini yang segera diikuti oleh distro besar seperti RedHat, Debian, dan Ubuntu. Ada baiknya segera melakukan update kernel di server untuk menutup lubang akibat bug ini.
Untuk menguji apakah mesin server yang dikelola rentan terhadap bug ini dapat menggunakan proof of concept yang ditulis oleh seorang hacker yang menggunakan nick zx2c4. Di blognya dia membahas dengan lengkap bagaimana bug ini dieksploitasi. Exploit yang ia beri nama Mempodipper ini dapat diunduh dari repositori git. Kode yang ditulis dalam bahasa C ini harus dikompilasi sebelum dijalankan, namun sebelumnya cek dulu user yang digunakan untuk memastikan exploit bekerja.

whoami
Dan hasilnya user yang log in saat ini user biasa.

Kompilasi dan jalankan Mempodipper untuk melakukan privilege escalation.
gcc mempodipper.c -o exploit ./exploit whoami
Abrakadabra, sekarang user biasa tadi sudah berubah menjadi root alias super user.
Dengan menjadi root apapun bisa dilakukan. So, segera lakukan update sebelum terjadi apa-apa, sebelum ada serangan yang dapat membahayakan. Oh ya, konon exploit ini tidak berlaku untuk distro Gentoo karena pengembangnya menggunakan sys-apps/shadow dari http://pkg-shadow.alioth.debian.org

Tutorial VirtualBox: Membuat Virtual Machine Baru

Setelah instalasi VirtualBox selesai, kita sudah bisa mulai menggunakannya untuk membuat berbagai macam server atau desktop sebagai virtual machine. Dengan cara seperti ini, seseorang dapat memiliki banyak komputer yang bisa digunakan sebagai lab pribadi tanpa harus memiliki banyak PC/laptop. VirtualBox menyediakan dukungan yang cukup lengkap untuk sistem operasi yang dapat diinstall sebagai guest virtual machine, mulai dari Windows, Solaris/OpenSolaris, Linux, BSD/FreeBSD, IBM OS/2, hingga Mac OS X.
Membuat virtual machine di VirtualBox dapat dilakukan menggunakan antar muka berbasis perintah dan antarmuka grafis (GUI, Graphical User Interface). Dalam tutorial ini akan dibahas bagaimana mudahnya membuat virtual machine baru di Virtual Box, seperti dipaparkan dalam tutorial step by step membuat virtual machine berikut.
  1. Dari jendela utama VirtualBox klik ikon begambar matahari biru dengan tulisan New pada jajaran toolbar untuk membuka dialog wizard pembuatan virtual machine baru. Klik Next untuk melanjutkan.
  2. Isikan nama dari virtual machine yang akan dibuat, sebaiknya gunakan nama yang membari gambaran tentang kegunaan virtual machine ini. Misalnya saja dalam tutorial ini digunakan nama Proxmox karena nantinya akan diinstall Proxmox VE. Tentukan juga jenis sistem operasi dan versi, sesuaikan dengan sistem yang nantinya dipasang di virtual machine ini.
  3. Sesuaikan ukuran memori RAM yang akan diberikan ke virtual machine, untuk Linux server tanpa GUI biasanya 256 MB sudah cukup. Tapi ini juga bergantung pada aplikasi apa saja yang nantinya diinstall dan banyaknya memori RAM pada PC/laptop yang digunakan.
  4. Karena ini virtual machine baru, perlu dibuatkan harddisk baru. Bisa juga menggunakan harddisk yang sebelumnya sudah dibuat jika ada. Klik Next untuk memulai wizard pembuatan harddisk baru.
  5. Di jendela pertama pembuatan harddisk, pilih VDI (Virtual Disk Image). Ini adalah format harddisk standar di VirtualBox. Klik Next untuk melanjutkan.
  6. Di dialog Virtual disk storage details, pilih Dynamically allocated supaya harddisk virtual yang akan dibuat VirtualBox tidak langsung menghabiskan ruang kosong sebanyak yang dialokasikan tetapi akan bertumbuh secara dinamis sesuai dengan penggunaan.
  7. Tentukan besarnya ukuran harddisk untuk virtual machine baru ini.
  8. Tinjau kembali pengaturan virtual storage yang akan dibuat, klik Back untuk menyesuaikan pengaturan atau klik Create untuk menyetujui pembuatan harddisk baru.
  9. Sekarang kembali lagi ke dialog Create New Virtual Machine di VirtualBox. Klik Back untuk menyesuaikan pengaturan yang kurang pas, atau klik Create untuk membuat virtual machine.
  10. Pembuatan virtual machine di VirtualBox selesai. Namun virtual machine baru ini masih belum bisa digunakan karena masih harus diinstall sistem operasinya.

Install Proxmox VE, Framework Virtualisasi Terintegrasi

Sering merasa kerepotan ketika harus melakukan deployment solusi virtual machine berbasis free/open source? Harus diakui memang salah satu kelemahan solusi virtualisasi berbasis free/open source dibanding solusi sejenis yang propietary adalah ketiadaan perangkat lunak berbasis GUI atau web untuk melakukan deployment dan manajemen. Seorang sysadmin harus mahir menggunakan antarmuka baris perintah (command line interface). Kelemahan inilah yang coba ditutupi Proxmox VE, sebuah framework virtualisasi yang sangat mudah digunakan.
Dalam tutorial ini, kita akan mencoba melihat bagaimana mudahnya melakukan install Proxmox VE. Installer Proxmox VE versi terbaru dapat diunduh secara gratis di Proxmox.com resmi Proxmox. Rilis terbaru ketika tulisan ini dibuat memiliki nomor versi 1.9. Perlu diperhatikan bahwa Proxmox VE tidak menyediakan pilihan untuk pembagian partisi. Pembuatan partisi akan ditangani secara otomatis dan harddisk yang digunakan diformat total. Backup dulu data sebelum memulai instalasi Proxmox VE atau gunakan Instalasi Virtualbox jika hanya sekedar coba-coba dan belajar.
Berikut adalah step by step instalasi Proxmox VE.

  1. Atur BIOS supaya boot lewat CD-ROM bukan harddisk, karena kita menggunakan media CD. Di layar boot loader tekan saja enter untuk melanjutkan.
  2. Pilih 'Agree' di layar lisensi, Proxmox VE sendiri menggunakan lisensi GNU GPL versi 2.
  3. Pada tahap ini pastikan kembali target harddisk yang akan digunakan, jika sudah yakin klik Next untuk melanjutkan instalasi Proxmox VE.
  4. Di layar pengaruran Location and Time Zone, pilih Indonesia dan zona waktu yang sesuai. Klik Next untuk melanjutkan instalasi Proxmox VE.
  5. Selanjutnya tentukan password dan email untuk pengguna root yang nantinya akan digunakan untuk mengatur server virtualisasi Proxmox VE ini.
  6. Kemudian lakukan pengaturan nama host, alamat IP, default gateway, dan DNS untuk server Proxmox VE.
  7. Instalasi Proxmox VE membutuhkan waktu yang cukup lama. Di akhir instalasi instalasi klik Reboot untuk masuk ke sistem Proxmox VE yang baru saja diinstall.
Instalasi selesai, kini pengelolaan server virtualisasi Proxmox VE dapat dilakukan lewat browser web dengan megakses alamat IP yang ditetapkan pada langkah instalasi. Selamat bervirtualisasi.